Meningkatkan Khusyu’ dengan Akhlaq Karimah

Dalam pelaksanaan ibadah senantiasa membutuhkan keikhlasan dan kesungguhan. Terutama dalam pelaksanaan ibadah sholat. Ibadah sholat mesti dilaksanakan dengan ikhlas dan sungguh – sungguh karena Allah SWT dan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikianlah yang dalam Q.S. Al-Baqoroh ayat 45 disebut dengan Khusyu’.

Kekhusyu’an dalam sholat sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut merupakan suatau amalan yang berat dilaksanakan. Padahal sholat merupakan sarana untuk menolong seseorang dalam mengarungi kehidupannnya. Bagaiamana seseorang dapat menolong dirinya dengan sholatnya apabila sholatnya sendiri tidak khusyu’.

Kekhusyu’an merupakan barang yang langka dan jarang dimiliki oleh tiap orang. Demikian pula oleh orang yang sholat. Abu Dzar Al-Ghifari  pernah mendengar Rasulullah SAW bersabada : “Bahwa hal yang pertama akan lenyap dari umat Islam adalah kekhusyu’an, sampai tidak akan pernah terlihat orang yang khusyu’ di kalangan mereka.” Riwayat ini terdapat di dalam riwayat imam Thabrany dan ibnu Hibban. Menyimak kelangkaan yang terjadi berkaitan dengan orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya kelak, ini menggambarkan masa depan di mana setiap orang akan melaksanakan sholat, sebuah ritual keseharian mereka dalam mengabdi kepada Tuhannya, begitu sulit untuk dilaksanakan diiringi dengan khusyu’ setelah menjalankan sholat yang lima waktu saja masih banyak yang tidak disiplin.

Permulaan Islam muncul diwarnai dengan fenomena tiadanya kekhusyu’an yang terjadi di kalangan umat Islam sampai dengan turunnya firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Hadid ayat 16 : “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka),…” Ibnu Mas’ud menjelaskan hingga 4 tahun lamanya umat Islam berada dalam dilema tidak adanya kekhusyu’an dalam ibadah mereka, demikian apa yang diriwayatkan imam Muslim dalam kitab Shohihnya mengenai kekhusyu’an. Lalu bagaimana dengan saat ini, dengan kondisi makin jauhnya umat Islam dari agama mereka, maka makin jauh pula mereka dari memahami peringatan Allah SWT untuk selalu khusyu’ dalam ibadah mereka.

Banyak senda gurau dan bahan ketawaan akan membuat seseorang tidak akan menikmati lagi kekhusyu’an di dalam setiap ibadahnya, terlebih sholat. Sahabat Abdul ‘Aziz bin Abi Rawaad mengalami hal tersebut, dimana para sahabat Rasulullah yang lainnya selalu bergurau dan bercanda ria. Demikian pula dengan sahabat Muqootil bin Hayaan yang menyaksikan beberapa sahabat yang selalu bergurau. Sedangkan kejadian lain sebagaimana diungkapkan oleh sahabat Qasim, disaat para sahabat sedang mengalami kebosanan, mereka pun banyak bertanya yang bukan-bukan kepada Rasulullah SAW. Sampai mereka mengulang-ulang suatu pertanyaan agar Rasul terus berbicara, sehingga Allah SWT pun menurunkan ayat 16 surat Al-Hadid menegur mereka semua agar kembali kepada kesungguhan dan kekhusyu’an dalam pelaksanaan agama mereka, terutama dalam melaksanakan ritual ibadah sholat yang setiap hari mereka laksanakan.

AKHLAQ KARIMAH MEMBENTUK KEKHUSYU’AN

Apabila Rasulullah SAW tertimpa suatu masalah yang berat maka beliau pun sholat, sebagaimana Rasulullah SAW pernah diberitahu mengenai kematian putrinya. Sedangkan beliau berada dalam sebuah perjalanan, beliau pun istirja’ dan berhenti lalu melaksanakan sholat dan beliau pun membaca ayat 45 surat Al-Baqoroh : “Dan jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, karena sesungguhnya sholat itu amatlah berat melainkan bagi orang yang khusyu’.”

Demikianlah sholat tidak akan berat dilaksanakan apabila benar-benar dilaksanakan dengan penuh munajat kepada Allah SWT dan berserah diri. Rasulullah SAW benar-benar melaksanakan sholat dengan penuh keimanan setelah terjadi peristiwa kematian putrinya tersebut atau dalam definisi imam Mujahid, Rasulullah SAW telah sholat dengan khusyu’, karena menurut imam Mujahid, orang yang khusyu’ adalah orang yang benar-benar beriman.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh mengenai penyerahan diri beliau kepada Allah SWT atas apa yang telah menimpa keluarganya. Apa yang diturunkan oleh Allah SWT baik berupa takdir yang baik dan buruk tidak pernah membuat putus asa. Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah melaksanakan kekhusyu’an dalam hidup beliau, senada dengan pendapat Muqootil bin Hayyaan bahwa orang yang khusyu’ adalah orang yang mampu bertawadlu’ atau berserah diri terhadap Allah SWT atas apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Dan termasuk pula Rasulullah SAW orang yang khusyu’ karena percaya terhadap apa yang diturunkan oleh Allah SWT baik berupa hal yang baik maupun yang buruk sesuai pendapat ibnu Abbas bahwa orang yang khusyu’ adalah orang yang mampu mengimani terhadap apa – apa yang diturunkan oleh Allah SWT.

Menerima kenyataan dengan keikhlasan mampu menumbuhkan kekhusyu’an. Demikian pula, memberikan pertolongan orang lain dalam menerima kenyataan. Hal ini dapat dipahami dari ucapan Rasulullah SAW ketika para sahabat senanatiasa bertanya tentang hal yang berat, termasuk di dalamnya pengertian tentang beratnya kekhusyu’an dalam pelaksanaan ibadah sholat.

Rasulullah SAW menjawab bahwa segala yang berat dan menjadi beban akan menjadi mudah dan ringan apabila kita diberikan keringanan oleh Allah SWT. Ternyata segala sesuatu dikembalikan kepada Allah SWT. Maka apabila seorang hamba menginginkan kemudahan dalam hidupnya harus mengikuti langkah yang dapat mempermudah dia memperoleh kemudahan dari Allah SWT. Salah satu dari hal yang dapat dipermudah adalah menjadi orang yang khusyu’. Sebab kekhusyu’an salah satu hal yang berat untuk dilaksanakan terlebih dalam pelaksanaan ibadah sholat. Bagaimanakah kita dapat dipermudah oleh Allah SWT untuk menjadi orang yang khusyu’.

Beberapa langkah yang akan mengakibatkan kita dapat memperoleh kemudahan dari Allah SWT dalam segala hal sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah SAW yang erat kaitannya dengan akhlaq seseorang terhadap eksistensi orang lain sebagai sesama makhluq Allah SWT.

Allah SWT akan mempermudah hamba-Nya dalam berbagai hal termasuk diantaranya ibadah sholat agar dapat khusyu’ yaitu apabila hamba tersebut memiliki semangat dan motivasi untuk melaksanakan 3 hal berikut yaitu :

  1. Mampu menghilangkan kesusahan seorang muslim dalam urusan dunia atau sekurang-kurangnya mampu meminimalisir kesusahannya. Kesusahan yang dialami oleh seseorang bisa berupa : harta, kejahatan atau kezaliman orang lain terhadap dirinya atau penyakit;
  2. Mampu mempermudah seseorang yang mengalami kesulitan. Baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Dalam urusan dunia seperti : hutang, pidana, tugas, dst. Demikian pula urusan akhirat seperti : sholat, shaum, zakat, dst;
  3. Mampu menutupi aib seorang muslim berupa : kekurangan, aib, dosa-dosa, dst.

Dengan 3 hal di atas, maka Allah SWT akan memberikan kemudahan-kemudahan kepada muslim yang melakukannya. Bagi orang yang sholat maka di dalam sholatnya dia akan merasakan kekhusyu-an. Sehingga sholat akan membawa dampak yang terbaik. Sholatnya dapat menghilangkan perbuatan buruk dan munkar. Bukankah itu yang kita ingin rasakan dari ibadah sholat yang senantiasa kita laksanakan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s